Renungan di Hari Pendidikan Nasional
Pendidikan Tagged refleksi hardiknas, ki hajar dewantara, bumi pertiwi, pemimpin tanpa nurani Mei 2nd, 2012Setiap tanggal 2 mei kita memperingati hari pendidikan nasional baik di desa maupun di kota. Upacara bendera secara khusus diselenggarakan untuk kembali mengenang betapa pentingnya tanggal 2 mei ini. Tapi sadarkah kita dengan wajah dunia pendidikan kita saat ini? Ketahuilah bumi pertiwi masih berduka, hatinya perih oleh pengkhianatan dan tubuhnya memar penuh luka oleh dosa putra bangsa. Bumi pertiwi menangis bak seorang ibu yang melihat buah hatinya terpaksa tak mampu membeli susu, air mata ibu pertiwi terus mengalir bak air hujan di tengah badai yang kelam. Ibu pertiwi bertanya tanya mengapa semua ini terjadi dan kenapa sistem pendidikan di negeri tercinta ini belum jua memberikan perubahan signifikan. Di tengah kesendiriannya, ibu pertiwi menerawang langit hitam, ia coba mengalihkan pandangan dan ternyata di depan mata sejuknya ia melihat begitu banyak dinding yang memisahkan rakyat jelata dengan para penguasa. Tuhan… demikian guman ibu pertiwi dalam hati, mengapa belum jua Engkau antarkan di bumi ini pemimpin yang peduli, pemimpin yang mengerti, dan pemimpin yang menyadari jika pendidikan adalah harga mati yang tak bisa ditukar dengan ambisi pribadi? Tuhan…, apakah bangsa ini telah tertipu oleh tingginya nilai akademik tetapi mental lulusannya penuh intrik dan licik, apakah bangsa yang dulu dipuja ini begitu bangga disamakan sebagai bangsa modern tetapi ruhnya telah tergadai oleh tabiat western? Tuhan…, sungguh kasihan generasi muda di negeri ini, mereka begitu mudahnya dibodohi dan dikelabui dengan ide ide yang menghancurkan jati diri hingga tanpa sadar bangsa ini telah kehilangan harga diri tanpa bisa menangis lagi. Bukankah saat kita kehilangan seruatu yang berharga harusnya menangis sejadi jadinya, dan bukankah manusia juga mengerti kalau harga diri dan jati diri itu sangat berarti? Tuhan… Lukaku telah begitu parah, aku tak ingin tubuhku dikotori oleh sampah korupsi, aku tak sudi ada manusia tanpa nurani yang jadi pemimpin di negeri ini. Karena bila mereka tetap ada disini maka selamanya negeri yang kaya raya ini hanya akan menjadi bahan hinaan, cemoohan, dan dijadikan obyek penipuan. Para pemimpin yang tak bernurani sekali lagi tak boleh menginjak bumiku ini, aku tak ikhlas, dan tubuhku tak bisa menerima kehadiran mereka selamanya. Tuhan…, aku tahu hanya Engkau yang kuasa untuk merubah masa depan pendidikan di negeri ini, muliakan bumi pertiwi sebagaimana cita cita mulia Ki Hajar Dewantara yang kami cintai.. Amiin




